Pergerakan kelompok Suporter Ultras dan Hooligan Casuals di Indonesia

Workingclass.ID - Sepakbola tanpa suporter rasanya seperti sayur tanpa garam, hambar. Kedatangan suporter ke stadion tentunya sangat di harapkan bagi para pemain. Selain untuk menjadi pembakar semangat pemain di lapangan hijau, kehadiran suporter di dalam stadion tentunya juga bisa membantu finansial sebuah klub sepakbola.

Selain dari sponsor, klub sepakbola pastinya juga mempunyai pemasukan dari tiket dan merchandise yang di beli oleh suporter. Jadi jika kalian sangat mencintai klub kebanggaanmu itu, maka beli tiket masuk stadion dan tentunya beli pakaian maupun jersey original dari klub kebanggaanmu itu.

Mencintai tidak harus setiap saat datang langsung mendukung kesebelasan berlaga, namun dengan membeli merchandise original dari klub juga termasuk bukti kecintaan anda terhadap klub kebanggaanmu. Karena dari penjualan-penjualan merchandise itulah Klub bisa Hidup.

Semua Klub di Indonesia pasti mempunyai kelompok pendukung suporter fanatik. Tidak hanya di kasta tertinggi Liga 1, melainkan Liga 2, Liga 3 bahkan Liga Amatiran pun pasti ada suporter fanatiknya.

Namun taukah anda bahwa Suporter yang ada di Indonesia ini ada beberapa yang mengadopsi budaya dari luar negeri? Ada yang menganut culture Ultras dan juga menganut culture Hooligans Casuals.

Apa perbedaan dari Ultras dan Hooligan?
Ultras adalah sebuah kelompok suporter yang identik dengan pakaian serba hitam dan juga menggunakan tutup wajah atau memakai balaclava untuk menyembunyikan identitasnya. Ketika di tribun kelompok ini biasanya akan menempati Curva Sud dan Curva North atau tribun belakang gawang. Mereka terus memberikan semangat pemain di lapangan dengan cara bernyanyi dan juga atraksi-atraksi Koreo dan Giant Flag.

Gerakan Ultras ini pertama kali muncul pada akhir tahun 1960an di Italia. Di Indonesia ada banyak suporter yang menganut Culture Ultras ini, yang terbaik salah satunya adalah Brigata Curva Sud. BCSxPSS atau Brigata Curva Sud adalah kelompok suporter dari klub PSS Sleman. BCS seringkali menampilan koreo-koreo apik saat mendukung PSS berlaga. Tidak hanya itu, BCS juga selalu bernyanyi dengan lantang yang pastinya akan menurunkan mental tim lawan.
Pada tahun 2017, Brigata Curva Sud mendapatkan penghargaan Ultras terbaik di Asia versi Copa90. Di tahun yang sama foto dari Brigata Curva Sud juga terpampang di cover majalah Polandia, To My Kibice.

Hooligan adalah sebutan untuk kelompok suporter yang suka melakukan keonaran atau keributan saat mendukung tim kebanggaannya, apalagi tim kebanggaannya kalah. Gerakan Hooligans pertama kali terjadi di Inggris, namun fenomena itu kini menjadi fenomena global. Hooligan juga sering melakukan tour tandang maupun ke kandang rival. Seringkali mereka harus berurusan dengan aparat keamanan dan sering keluar masuk penjara karena bentrok. Untuk mengelabuhi aparat dan mempersiapkan jika terjadi kerusuhan, mereka tidak menggunakan pakaian yang sama dengan tim kesayangannya. Jika terjadi kerusuhan, mereka tidak menggunakan senjata atau hanya menggunakan tangan kosong. Para Hooligans menggunakan pakaian-pakaian ber-merk dari brand Adidas, Fred Perry dan masih banyak lagi.
Baca Juga: Daftar Brand Casual Suporter

Di Indonesia ada beberapa suporter yang menganut culture Hooligan, salah satunya adalah Surakartans. Kelompok pendukung fanatik Persis Solo ini menempati tribun B6 Stadion Manahan Solo. Saat mendukung Persis berlaga, kelompok ini tidak memakai pakaian-pakaian serba merah Persis Solo. Melainkan mereka menggunakan pakaian-pakaian casual. Tidak hanya itu, mereka juga bernyanyi menggunakan bahasa inggris dengan suara perutnya.
Baca Juga: Cara ngechant menggunakan Suara Perut

Itulah perbedaan antara Hooligan dan Ultras. Mengadopsi culture dari luar boleh-boleh saja, asal jangan adopsi mentah-mentah budaya suporter yang ada diluar. Misalnya dengan tidak ikut-ikut berkelahi, apalagi dengan aparat keamanan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel