Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Advertisement
Advertisement

Banyak keputusan Kontroversi, kenapa tidak menggunakan Wasit Bantu tepi Gawang saja?

BRI Liga 1 2021/2022 ini seringkali merugikan tim karena keputusan wasit. Menurut ketua umum PSSI, Mochamad Iriawan, banyak yang mengeluh terkait kinerja wasit BRI Liga 1 2021/2022.

Menurut Ketum PSSI tersebut, banyak keputusan kontroversi dalam dua pekan pergelaran BRI Liga 1 2021/2022. Menurutnya hal itu karena kesalahan manusia, karena wasit sudah lama tidak bertugas.

PSSI melakukan evaluasi dan langkah tegas memberikan peringatan dan teguran kepada wasit, agar kedepannya wasit lebih berhati-hati didalam mengambil keputusan.

Para penikmat sepakbola Indonesia pun tak ambil diam. Banyak masyarakat pecinta sepakbola nasional yang menginginkan jika Liga 1 harus menggunakan VAR, Teknologi Garis Gawang atau Goal-line Technology.

Kenapa Liga 1 tidak menggunakan VAR / Goal Line Technology?



Namun, untuk menggunakan teknologi tersebut tentunya biayanya juga tidak murah. Menurut
Anggota Exco PSSI, Yoyok Sukawi, harga bisa menjadi kendala untuk penerapan video assistant referee atau VAR di Liga 1 Indonesia.

Menurutnya, harga VAR yang sesuai dengan standar FIFA ( Federasi sepak bola dunia ) diperkirakan mencapai Rp 7 miliar.

Jika mau menggunakann goal line technology, harganya juga sangat mahal. 

Berapakah biaya Goal Line Technology 

Di Indonesia sendiri ada beberapa momen di mana Goal Line Technology harus sudah hadir untuk melegitimasi keputusan dari wasit. Salah satunya ketika Persebaya Surabaya menghadapi Persela Lamongan.

Pada menit ke-33, Persebaya Surabaya mendapatkan tendangan bebas yang di eksekusi oleh Jose Wilkson.

Tendangan keras Wilkson mengarah ke penjaga gawang dan sempat ditepis, namun bola itu lepas dan jika dilihat dari tayang ulang, bola itu sudah melewati garis gawang. Namun wasit memutuskan untuk play-on dan langsung dimanfaatkan oleh Persela untuk menyamakan kedudukan melalui sepakab Ivan Carlos.

Ada lagi kejadian yang menjadi perdebatan pada laga ini, sebab gol Ivan Carlos pun banyak yang menilai sebenarnya berada dalam posisi Offside.

Namun kembali lagi, kejadian dilapangan cukup cepat dan tentunya menjadi hal sulit bagi para pengadil dilapangan.

Untuk penggunaan Goal Line Technology selama lima tahun, klub di Inggris harus merogoh hingga 475.000 poundsterling atau sekita Rp.8,9 miliar rupiah.

Harga itu terhitung lebih murah daripada harga yang ditawarkan di Jerman. Untuk penggunaan selama tiga tahun, Jerman harus merogoh hingga 420.000 poundsterling atau sekitar Rp.7,9 miliar rupiah.

Kenapa tidak menggunakan Wasit Gawang ?

Jika dirasa Harga VAR dan Teknologi Garis Gawang mahal, kenapa Liga 1 atau Liga di Indonesia tidak menggunakan Wasit Bantu di tepi lapangan saja?

Daripada menggunakan video assistant referee dan goal line technology yang banyak memakan biaya, menggunakan wasit bantu di tepi gawang bisa menjadi solusi dan tentunya tidak mengeluarkan banyak biaya.

Lalu harus nunggu sampai kapan? Nunggu banyak Klub yang dirugikan? Kenapa tidak mencoba dengan memakai Wasit Bantu tepi Gawang dulu.
Advertisement
Advertisement